Ketika masa SMA, Heni Purwono bukanlah siapa-siapa.
Bahkan dikalangan teman-temannya, Heni lebih dikenal sebagai anak yang kurang
pergaulan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu SMA untuk belajar dan bermain
sepak bola. Meski demikian ketika lulusan SMA ia dinobatkan sebagai juara 1 siswa
program IPS. “Saat itu saya tidak menyangka, karena saat kelas 1 bahkan saya
hamper dikeluarkan dari sekolah akibat pulang lebih awal melompat pagar
sekolah” ujar heni sembari terkekeh.
WDR
Warta Desa Rembang
Kamis, 01 Agustus 2013
Jumat, 05 Oktober 2012
Wayang Suket Warisan Mbah Gepuk
KISAH Mbah Gepuk dan wayang suket asli Purbalingga perlahan-lahan menghilang. Kecenderungan tersebut berlangsung setelah 12 tahun silam sang pencipta yang bersahaja itu meninggal dunia, meninggalkan wayang suket-wayang suket ciptaannya.
Namun kini tanpa sepengetahuan masyarakat luas, ekspresi kegagahan tokoh dunia pewayangan yang dirajut dari rumput itu muncul kembali. Ya, para tokoh wayang yang dibuat dari rumput yang dirajut itu hadir kembali lewat tangan dua perajin asal Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. ”Selama ini wayang suket di Purbalingga seakan-akan sudah musnah. Padahal, saat ini masih ada yang meneruskan langkah Mbah Gepuk, yakni cucunya, Bodriyanto, dan saya,” ujar Ikshanuddin (33). Lajang asal Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, yang akrab dipanggil Ikshan itu menuturkan tak pernah belajar secara langsung kepada sang maestro, Mbah Gepuk. Dia hanya terinspirasi untuk membuat karya unik itu setelah melihat wayang suket dan brosur bergambar wayang suket yang masih tersimpan di meja kerja.
Moncer
Kala itu, Ikhsan kecil sering melihat Mbah Gepuk berjualan wayang di tepi jalan raya Desa Bantarbarang. Dia tertarik memperhatikan wayang-wayang yang dirajut dari rumput jenis kasuran buatan kakek berusia 92 tahun itu. ”Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Kaki Gepuk menjual wayang seharga Rp 15.000. Cukup mahal saat itu,” ucap Ikhsan. Dia menuturkan nama Mbah Gepuk makin moncer ketika berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta tahun 1995. Wayang suket karya Mbah Gepuk mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat seni Yogyakarta yang telah tumbuh lebih
Langganan:
Komentar (Atom)

